Sabtu, 23 April 2011

Semarang Old City

Semarang City, the capital of Central Java that was emerge since 16th centry has many historical buildings, like Lawang Sewu, the Chatedral and shophouses in Chinatown. One area that has so many historical buildings, especially colonial buildings is Semarang Old City. I have the opportunity to take some photographs in that region last December, which I would like to share with my dear readers.

Old City lays in northern part of Semarang, roughly from Berok Bridge to Tawang railway station. During the Dutch colonial era, this area was the downtown or the city center of Semarang, where all important government and public office was situated. Old City was built since Semarang- Kaligawe was handed over by Amangkurat II to Dutch East India Company in 15 January 1967 as a reward for suppressing Trunojoyo uprising.



The oldest building in Old City is Blenduk Church. Built in 1753 by Dutch community, it is the oldest Christian Church in Central Java. The name Belnduk came from its half sphere dome, which is called 'blenduk' in Javanese. The dome itself actually was built during huge renovation in 1894, At that moment the two minarets side by side the entrance with four Classical Doric columns was also built. Blenduk Church is still in use today by West Indonesia Christian Church, and is well preserved.



















Across the curch there is formerly Nilmij Insurance office, designed by renowned Dutch architect Thomas Karsten, which is an important figure in Colonial Archtecture. This building was the first modern construction in Semarang and also the first to use a manually operatrd lift. Now the building is still occupied as Jiwasraya Insurance office.




















In the vicinity of Gereja Blenduk stands a two-story European-style building known simply as Marba, which many consider the most beautifully designed in the area. The red-brick building, currently used as an office for a political party, was formerly a European-only supermarket.



















The buildings in Old City mostly built in early 20th century, so there was a lot of influence from modernism in their architectural style. This combined with art deco, art nouveau and Chinese style has made this buildings unique. The tropical climate, with its high humidity, intense heat, torrential rain also dictates the appearance of these buildings. Sometimes the term colonial architecture was used to mention the style of the buildings. In fact we cannot find such style in their origin country, the Netherlands. It only flourished in Indonesia and south east Asia, one of the many eason why these buildings should be preserved.






































































































As an architectural artefact these buildings is very precious because they have very beautiful details, as seen in these photos of doors and windows. People do not make wooden doors, iron bars and stained glass like these anymore because they are too intricate and cost a lot of money.













































Despite of that consideraton, it is sad that Old City Semarang is not well maintained, a lot ot its buildings crumbled an ruined. Homeless people take these once prestigious buildings as their shelter. Local government actually have done some effort to improve the quality of the environment by laying pavement blocks in this area, with the aid from World Bank fundings, but that was not enough.

The restoration, rennovation or revitalitation of these buildings costs a lot of money and demands special expertise. The private ownership of the buildings creates more obstacles to the effort. There is Old City Foundation, an organization with its mission to help preserving the of Old City of Semarang. They need support from the citizen of Semarang to fulfill its mission.

Rabu, 13 April 2011

Concrete pump [2]

Teman-teman, seperti yang saya sebutkan pada posting yang lalu, sekarang saya menampilkan jenis concrete pump yang lazim dipakai dipakai di bangunan tinggi. Mesin ini portable, bisa dibawa-bawa dengan ditarik mobil, namun tidak memiliki belalai. Sebagai gantinya, digunakan rangkaian pipa untuk menyalurkan beton. Rangkaian pipa ini bisa disusun setinggi 10 lantai lebih tergantung kemauan.
Pada gambar di samping tampak mobil mixer menuangkan beton ke dalam bak concrete pump tersebut.

Jumat, 25 Maret 2011

Mobile Concrete Pump [1]

Teman-teman, pada kesempatan ini saya ingin memperkenalkan kawan saya, mesin yang besar dan handal bernama concrete pump atau pompa beton. Alat ini dipergunakan manakala perlu dilakukan pengecoran dalam jumlah besar pada lokasi yang sulit, misalnya di ketinggian. Tanpa alat ini pengecoran dengan kondisi seperti di atas akan memerlukan banyak tenaga kerja dan waktu yang lama.
















Pada saat foto ini diambil, tengah dilakukan proses pengecoran lantai 3 seluas 170m2. Ketinggian pengecoran 8m dan beton yang dibutuhkan sebesar 30m3. Dengan concrete pump, pekerjaan bisa diselesaikan selama 3 jam. Jika dilakukan tanpa concrete pump mungkin akan memakan waktu 12 jam dengan tenaga kerja sangat banyak.

Seperti dapat teman-teman lihat, concrete pump ini bersifat mobile karena dipasang di badan sebuah truk. Belalainya yang sepanjang 15m dapat dilipat pada saat dalam perjalanan.

Pengoperasian concrete pump sederhana saja. Beton segar yang masih cair dituang dari mobil mixer ke dalam sebuah bak, selanjutnya dipompa ke atas melalui belalai ke area yang akan dicor. Belalai concrete pump dapat digerakkan sesuai kebutuhan dengan kontrol seorang operator melalui sebuah remote.














































Selain dari yang tergambar di foto, ada tipe concrete pump yang lebih kecil, untuk menangani pengecoran dengan volume yang lebih sedikit dan posisi yang tidak terlalu tinggi. Biasanya concrete pump kecil ini dipergunakan pada perumahan atau renovasi.

Ada juga concrete pump yang tidak melekat di truk dan terpisah dari belalai. Pompa semacam ini biasa dipakai untuk bangunan tinggi seperti pencakar langit. Pada pekerjaan semacam itu, penggunaan belalai tidak memungkinkan lagi. Beton dipompa lewat pipa baja yang menjulang sepanjang tepi bangunan.

Jika ada kesempatan, saya akan menulis mengenai alat yang ini, namun untuk sementara cukup sekian cerita saya kali ini.

Kamis, 17 Maret 2011

Pabrik Rangka Atap Baja Ringan

Teman-teman, kebetulan saya tadi berkunjung ke pabrik rangka atap baja ringan dan melihat proses pembuatannya, yang ternyata sangat sederhana.

Ternyata bahan baku baja ringan yang datang ke pabrik berupa plat gulungan zinc alum, dengan ketebalan bermacam-macam sesuai kebutuhan.

Plat ini selanjutnya dipress dengan mesin sesuai bentuk yang dikehendaki apakah profil C atau V dan dipotong sesuai panjang pasaran.

Jadilah rangka baja ringan tersebut. Sangat mudah, siapa tahu Anda ingin membuat pabrik semacam ini.


Selasa, 08 Maret 2011

Seputar Roof Sheet

Teman-teman, setelah berbulan-bulan tidak nulis, akhirnya muncul kembali kemauan nulis saya. Mohon maaf pada teman-teman follower.

Karena postingan terakhir saya adalah mengenai atap kepingan/roof tile, maka saat ini saya akan melanjutkan dengan membahas atap lembaran/roof sheet.

Roof sheet adalah bahan atap berupa lembaran. Contohnya atap seng, asbes dan zinc alume.

Keuntungan / keunggulan roof sheet adalah :
1. Bahan yang ringan sehingga tidak dibutuhkan konstruksi kuda-kuda yang kuat.
2. Pengerjaan lebih sederhana, sehingga waktu konstruksi singkat.
3. Relatif tahan terhadap kebocoran, karena berupa lembaran utuh

Kelemahan / kerugian roof sheet adalah :
1. Tidak cukup memberikan insulasi panas, karena penampangnya yang tipis. Atap seng & zinc alume justru meneruskan panas karena berbahan dasar logam.
2. Tidak cukup memberikan insulasi suara, juga karena penampangnya tipis. Karena itu roof sheet akan bising ketika diterpa hujan.

Oke, sekarang kita akan membahas berbagai macam roof sheet.

1. Seng / zinc
Dari berbagai macam roof sheet, bahan ini yang paling murah. Untuk atap biasanya dipergunakan seng gelombang. Seng plat ada juga, biasanya untuk bahan talang.
Kualitas seng antara lain ditentukan oleh ketebalannya, yang pada akhir-akhir ini hanya tersedia yang tipis saja. Atap seng bersifat sangat menghantarkan panas, sehingga ruangan menjadi panas pada siang hari. Selain itu mudah berkarat, sehingga hanya selama 2-3 tahun karena bocor berkarat.

2. Atap asbes
Atap asbes juga berbentuk gelombang, seperti seng. Namun karena bukan berbahan dasar logam, atap ini tidak begitu menghantarkan panas dan suara. Atap asbes tidak berkarat, namun berlumut, yang menyebabkannya berwarna kehitam-hitaman setelah beberapa tahun. Atap asbes dapat pecah jika terinjak. Maka dalam perbaikan sebaiknya diinjak tepat pada bagian rangka. Kalau tidak salah, bahan asbestos untuk membuat atap ini bersifat karsinogenik. Karena itu sebaiknya gunakan plafond di bawah atap asbes.
3. Zinc alume
Atap ini terbuat dari campuran seng dan alumunium dicat. Di daerah saya bahan ini disebut dengan spandek. Salah satu merek yg terkenal adalah Fumira. Bentuk gelombang atap jenis ini bermacam-macam, ada yang bentuknya mirip genting. Ketebalannya juga banyak pilihan. Usahakan pilih ketebalan 0.4mm untuk hasil yg baik Panjang atap zinc alume dapat dipesan sesuai kebutuhan, yang membatasi hanya kepraktisan pengangkutan.
Atap zinc alume tahan karat. Kelemahannya, karena bahannya logam, adalah menyalurkan panas & suara. Namun kelemahan ini dapat dikurangi dengan penambahan lapisan alumunium foil dan glasswool di bawahnya.
Karena sifat-sifat di atas, maka atap zinc alume banyak dipergunakan di pabrik-pabrik dan bangunan berbentang besar lainnya.

4. Sirap
Pada mulanya sirap terbuat dari kayu, namun pada saat ini sudah banyak bahan logam dan sintetis yang dipakai untuk sirap. Bahan-bahan modern ini lebih tahan terhadap cuaca dan jamur daripada kayu. Sirap umumnya dipasang di atas permukaan tripleks, namun ada juga yang cukup kaku untuk dipasang begitu saja. Umumnya sirap memberikan insulasi panas dan suara yang lebih baik dari atap seng atau zinc alume, selain itu penampilannya juga lebih bagus. Namun dari segi harga, sirap lebih mahal dari dua jenis atap tadi.


Selasa, 23 Februari 2010

Genting sebagai bahan penutup atap dan berbagai permasalahannya

Atap bangunan mempunyai peran yang sangat penting baik secara fungsional maupun secara estetis.

Secara fungsional atap merupakan bagian yang paling besar perannya dalam memberikan perlindungan terhadap iklim karena merupakan bagian bangunan yang paling banyak terpapar panas dan hujan.

Sedangkan secara estetis, atap merupakan elemen yang sangat menentukan ciri atau karakter suatu bangunan. Misalnya bentuk rumah gadang dan joglo, paling mudah dikenali dari bentukan atapnya

Secara garis besar, atap bangunan dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu jenis lembaran (roof sheet), contohnya seng & sirap, serta jenis kepingan (roof tile) atau dikenal dengan istilah genting.

Pada tulisan kali, saya akan membahas berbagai permasalahan genting sebagai bahan penutup atap

Dibandingkan dengan atap lembaran, atap genting mempunyai beberapa kelebihan, antara lain :
1.Merupakan insulasi panas yang baik, karena bahan yang tebal dan padat mampu meredam rambatan panas. Karakter ini tentu sangat baik untuk menahan paparan terik matahari.
2. Merupakan insulasi suara yang baik, sehingga mengurangi kebisingan suara akibat terpaan air hujan.
3.Memungkinkan pertukaran udara pada ruang di bawah atap. Ini terjadi karena atap genting merupakan rangkaian kepingan yang memungkinkan udara lewat di antara kepingan-kepingan atap. Dengan demikian, udara panas di bawah atap lebih leluasa berekspansi keluar.

Sedangkan kekurangan dari atap genting adalah :
1. Kemiringan atap harus curam, tidak dapat dipasang pada sudut atap landai. Ini terjadi karena atap genting tersusun dari kepingan-kepingan sehingga sudut atap yang landai dapat mengakibatkan bocor pada saat hujan.
2. Bobotnya berat, sehingga menuntut rangka atap yang lebih kuat, yang artinya membutuhkan material rangka atap yang lebih banyak, dan selanjutnya biaya yang lebih besar
3. Lebih rentan terhadap kebocoran. Sekali lagi karena merupakan susunan dari kepingan-kepingan, pemasangan genting menuntut ketelitian dan ketepatan. Jika ini tidak dilakukan, maka interlocking antar kepingan tidak sempurna dan mengakibatkan kebocoran.

Dari segi bahan, ada berbagai jenis genting, antara lain genting tanah liat, genting keramik dan genting beton.

Genting tanah liat adalah jenis genting yang paling merakyat. Dibuat dari tanah liat yang dibakar sehingga berwarna terracotta. Jika pembakaran kurang baik, genting ini akan rapuh atau mudah pecah. Selain itu permukaan genting ini mudah ditumbuhi lumut setelah terpasang beberapa tahun, sehingga menimbulkan warna kehitam-hitaman. Untuk mengatasi masalah lumut ini, seringkali genting dicat sebelum dipasang.







Sama dengan genting tanah liat, genting keramik juga terbuat dari tanah liat, namun pada permukaan atasnya ditambahkan lapisan keramik sehingga mengilap dan tahan lumut. Kualitas pembakaran genting keramik lebih baik dari genting tanah liat karena prosesnya dilakukan di pabrik, bukan di industrik rakyat seperti genting tanah liat. Dengan demikian genting ini lebih keras dan tidak mudah pecah.










Selanjutnya adalah genting beton, yang tentu saja terbuat dari beton dengan finishing cat pada permukaan atas. Dari segi kekuatan, genting ini lebih unggul dari genting tanah liat dan genting keramik. Bobotnyapun lebih berat. Penampilan genting beton sangat dipengaruhi oleh halusnya hasil cetakan dan kualitas cat pada permukaannya.









Bentuk kepingan genting beraneka ragam, gambar-gambar di atas sekedar contoh saja untuk menggambarkan perbedaan penampilan masing-masing jenis genting. Namun yang pasti dalam setiap kepingan pasti terdapat alur-alur untuk interlocking antar kepingan. Dan terakhir, perlu diperhatikan juga, bahwa atap genting memerlukan asesoris-asesoris dalam pemasangan, yaitu rabung dan genting penutup pinggir kiri dan kanan.


Demikian kira-kira plus minus dari pemakaian genting sebagai penutup atap. Pada kesempatan selanjutnya saya akan menulis mengenai penutup atap lembaran (roof sheet). Kiranya bermanfaat bagi teman-teman









Sabtu, 14 November 2009

Seputar Rangka Atap Baja Ringan [2]

Beberapa saat yang lalu saya menggunakan rangka atap baja ringan pada salah satu proyek kami. Pemasangan rangka atap tersebut merubah pandangan saya, bahwa rangka atap ini hanya cocok untuk bentang-bentang pendek. Faktanya rangka atap yang kami pasang mempunyai bentang 9m dan cukup kuat.

Dari segi keekonomian, rangka atap baja ringan lebih murah daripada rangka atap baja. Namun perlu disadari bahwa pertimbangan sistem struktur secara keseluruhan harus dilakukan untuk menentukan pilihan.



Kebetulan pada proyek kami, sistem struktur yang digunakan adalah beton bertulang, dengan demikian dapat mengakomodasi persyaratan baja ringan yang menuntut jarak antara kuda-kuda yang lebih rapat. Dalam hal ini adalah sekitar 2.6m untuk penutup atap spandek. Bandingkan dengan kuda-kuda baja yang biasanya dipasang pada jarak 6m.

Kesimpulannya, kuda-kuda ringan juga dapat dipakai untuk bentang lebar, namun perlu diperhatikan bahwa jarak antara kuda-kuda lebih rapat sehingga perlu penyesuaian pada struktur di bawahnya.

Kamis, 23 Juli 2009

Small Hotel with Ingenious Design

Recently my friend posted a picture in Facebook depicting a hotel in Kediri Central Java. The picture caught my attention because the unique design of the hotel. Although it is a small hotel, nevertheless, it was so well designed.

The hotel use common materials and common construction method, but it was arranged cleverly that make the form unique and genuine. The architect did not stick on ordinary and archtypal form, but dare to go beyond and invent fresh new form.

The design also reflects modesty and simplicity. It does not use many embellishment such as cornices or many ornaments. Instead the beauty simply comes from the form itself as a whole.

Whoever the architect is, he already did a good job.

Sabtu, 18 Juli 2009

Seputar Rangka Atap Baja Ringan [1]

Dewasa ini rangka atap dari baja ringan telah banyak menjadi pilihan masyarakat untuk rumah dan bangunan. Umumnya rangka atap ini dipakai sebagai alternatif pengganti rangka atap konvensional dari kayu, yang harganya semakin tinggi dewasa ini.

Rangka atap baja ringan cocok dipakai untuk bentangan yang tidak terlalu besar (kurang lebih di bawah 6m). Untuk bentangan yang lebar, rangka atap baja (steel) lebih cocok dari segi efisiensi harga dan kekuatan.

Bahan yang dipakai untuk rangka atap baja ringan umumnya adalah galvalume, yaitu campuran seng (zinc), alumunium dan silikon. Sifat bahan ini adalah ringan, tahan karat dan ulet. Kekuatan dari rangka atap baja ringan didapat dari konfigurasi berbentuk rangka sebagai satu kesatuan, istilah teknisnya 'cremona'.

Keunggulan rangka atap baja ringan dibandingkan dengan rangka atap kayu adalah : lebih ekonomis, tahan rayap, bobot lebih ringan, tahan lama (tidak mudah lapuk) dan lebih tahan terhadap api.Walaupun demikian, rangka atap kayu masih juga dikehendaki orang karena keindahannya, yaitu pada rangka atap yang diekspos. Tentu saja tekstur dan nuansa yang ditimbulkan oleh kayu tidak mungkin ditandingi oleh rangka baja ringan.

Pada umumnya rangka atap baja ringan ditawarkan dengan harga berkisar 150 ribu sampai 200 ribu rupiah per m2 luasan atap. Kontraktor atap baja ringan akan membuat perhitungan dengan software tertentu untuk menentukan desain cremona yang sesuai. Genting yang akan dipergunakan untuk bangunan harus ditetapkan sebelumnya karena menentukan jarak reng (batten).

Konsumen perlu memperhatikan ketebalan bahan yang ditawarkan kontraktor. Bahan yang lebih tebal umumnya menandakan kualitas yang lebih baik. Uji dan bandingkan kekakuan berbagai
rangka yang ditawarkan mengingat produk yang tersedia di pasaran untuk baja ringan sangat beragam.

Semoga bermanfaat



Selasa, 14 Juli 2009

Sunlight and Sun Heat in Tropical Climate

Buildings in tropical area has to be adapted with the tropical characteristic to perform well as a shelter. Fail to do so will make the building needs more energy to make it comfortable. Like for lighting and air conditioning. One of the tropical climate characteristic is its abundant sunlight that comes almost all year.


The abundant sunlight provides us with natural source for lighting. So it is good to make numbers of windows around the building to let the sunlight enter the building. However it has to be keep in mind that sunlight also brings more heat and too much lighting can cause discomfort. So it is suggested that we stay in moderate size of windows and opening.


We often see a building with the wall entirely made of glass. Such building is common in subtropical climate with 4 seasons to maximize natural lighting. But despite its appealing modern look, such building is not suitable for tropical climate. Sunlight in tropical area will create enourmus heat inside the room radiates through glass. So in turn it requires a large amount of cooling from air conditioning.










In tropical area such as Indonesia, the sun moves from east to west with 23.5 degree deviation each to north and south. For this reason, it is the best to make windows opening facing north/south direction. Windows facing east and moreover west direction without any obstruction will receive too much direct sunlight, and makes the room too hot

The principle to tackle the problem of heat that comes with the sunlight is to create as much shadow area as possible. This can be obtained by various ways making One solution is to make long roof overhang or creating porch which is a common practice in tropical houses. Another solution is putting solar screen in front of the window or opening which creates some sort of curtain to reduce direct sunlight.

A building that is suitable for tropical climate doesn't have to look old fashioned and traditional. Here is some example of award winning houses that is modern as well as suitable for tropical climate





A house by Alex Santoso uses long overhang to shelter the large windows from direct sunlight.







a house by Willis Kusuma uses transparent overhang and variation of wall recess to create shadow area to give the windows more shelter from sunlight











a house by Andra Matin has a series of solar screen that gives the building a distinctive looks


















a house by Sukendro Sukandra uses a series of solar screen that looks like a curtain






(images came from Skala+ magazine)

Sabtu, 04 Juli 2009

Pemukiman di tepi Kali Code Yogyakarta karya YB Mangunwijaya


YB Mangunwijaya (1929-1999), seorang Romo Katolik yang banyak dikenal sebagai seorang budayawan, sebenarnya juga merupakan seorang arsitek yang sangat istimewa. Bahasa bentuk Romo Mangun sangat orisinil, tidak meniru-niru atau berasosiasi dengan style-style yang ada, melainkan lahir dari pemikiran dan proses kreatifnya sendiri.

Salah satu karya beliau adalah pemukiman di pinggiran kali Code Yogyakarta yang mendapatkan penghargaan internasional Aga Khan Award for Architecture tahun 1992. Pemukiman ini adalah suatu proyek revitalisasi kota yang berbasis partisipasi masyarakat. Di lokasi ini, lingkungan pemukiman yang dulunya kumuh & tidak higienis berhasil ditata dengan cara pemberdayaan masyarakat. Jadi masyarakat sendiri yang diajak membenahi lingkungannya sendiri.

Pada mulanya kampung kali Code adalah pemukiman kumuh di pinggiran Kali Code beranggotakan 30-40 keluarga. Kebanyakan pemukimnya adalah pekerja kasar dan informal di lingkungan sekitar kawasan. Pada tahun 1983 pemerintah bermaksud menggusur pemukiman ini, namun atas permohonan ketua RT Willi Prasetya dan Romo Mangun, rencana tersebut ditangguhkan. Sebagai gantinya diselenggarakan suatu proyek revitalisasi dengan melibatkan 2 koran lokal untuk mendukung pendanaan

Perencanaan dan pembangunan area ini dimulai pada tahun 1983 dan selesai selama kurang lebih 2 tahun. Hampir tidak ada gambar atau dokumen konstruksi dibuat untuk proyek ini. Semua berlangsung secara spontan dan alamiah. Secara umum konstruksi rumah berbentuk huruf A dengan rangka dari bambu, dinding bilik bambu dan atap seng. Hanya tiga tukang kayu dan 2 tukang batu dipekerjakan untuk proyek ini, selebihnya adalah tenaga partisipasi warga dan sukarelawan. Mahasiswa seni rupa ikut terjun sebagai relawan untuk membimbing warga memperindah tampilan luar rumah mereka.

Bahasa estetika dari Kali Code ini adalah bahasa estetika rakyat jelata yang tradisional, berwarna-warni, sederhana tanpa pretensi berindah-indah. Mungkin agak banal, tapi apa adanya. Namun selain estetika visual, dalam proyek ini terpendam juga estetika kemanusiaan yang justru lebih indah. Yaitu bagaimana sesuatu yang dicap jelek, kumuh, tidak bernilai ternyata mampu bertransformasi menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan memberi nilai tambah pada estetika perkotaan.

Masih adakah revitalisasi perkotaan semacam ini di Indonesia saat ini ?


Info lebih lanjut, ada di :

















Senin, 29 Juni 2009

Review Tropicana Residence

Suatu kompleks perumahan baru bertajuk Tropicana Residence di Batam Centre menangkap perhatian saya karena keunikannya.

Perumahan ini disusun dengan konfigurasi cluster dengan taman dan pedesterian di tengah-tengahnya (foto 1). Kendaraan bermotor tidak memiliki akses ke dalam cluster dan harus diparkir di luar. Antara rumah satu dengan yang lain tidak dipisahkan pagar sehingga perbedaan antar kavling tidak begitu terasa. Suasana di dalam cluster sangat tenang, hijau dan eksklusif.
Namun di sisi lain, konfigurasi semacam ini juga belum tentu mudah diterima masyarakat. Dilema yang muncul adalah karena mobil tidak bisa diparkir di depan garasi pribadi sebagaimana perumahan pada umumnya. Jikalau hari hujan, hal ini bisa menjadi problem tersendiri. Dilema yang lain adalah batas properti yang tidak begitu nyata sehingga dapat menimbulkan rasa kurang nyaman bagi penghuni, karena merasa orang dapat dengan mudahnya lewat di area miliknya.

foto 1












Secara umum bangunan di perumahan ini bergaya modern minimalis dengan bukaan kaca yang sangat banyak. Secara visual sangat stylish (foto2). Namun kembali desain bentukan seperti ini memunculkan dilema. Pemakaian kaca yang sangat eksesif akan membuat cahaya matahari leluasa memanaskan ruangan. Apalagi untuk rumah yang menghadap timur dan barat. Dilema yang lain adalah bagaimana desain teralis yang sesuai untuk rumah semacam ini ? Mengingat pemakaian teralis sudah menjadi prasyarat keamanan dari sebuah rumah. Kemudian muncul juga masalah desain tabir/korden yang sesuai

Kesimpulannya : secara desain baik, tapi tidak untuk penghuni konservatif.

Suatu catatan lain : masih belum ada akses jalan beraspal ke perumahan ini. Saya rasa ini menjadi minus poin yang cukup besar.

foto 2

Minggu, 28 Juni 2009

JANGAN MEMBATASI DIRI HANYA KARENA MERASA TIDAK MAMPU
Di Bangalore, India, gajah besar hanya diikat di tiang pancang kecil yang sebenarnya dengan mudah dicabutnya. Aneh, mengapa gajah besar itu tak berupaya berontak. Jawabannya karena ketika masih kecil gajah itu berulang kali mencoba, tetapi gagal mematahkan tiang kecil itu. Kegagalan itu mewarnai pikirannya, bahkan sampai besar gajah itu tak pernah berusaha lagi untuk melepaskan diri.Sama seperti gajah kecil itu, acap kali perasaan ketertinggalan dan keterbelakangan memberi kesimpulan dalam otak kita.


JANGAN MEMBATASI DIRI HANYA KARENA MELIHAT SISI NEGATIF SUATU PERSOALAN
Bayangkan kita berada dalam kamar gelap dengan hanya secercah cahaya lilin kecil di tengah ruangan. Cahaya lilin itu barangkali tak sampai menyinari sepertiga ruangan, tetapi orang tak akan mencari sesuatu di tempat gelap. Orang akan melihat lewat sedikit sinar yang masuk ke mata. Inilah hukum 80 persen melihat persoalan dan 20 persen melihat kemungkinan jalan keluar. Melihat 80 persen persoalan artinya kita langsung menempatkan diri di bawah langit mendung berawan tebal, lalu menempatkan seluruh metabolisme tubuh, pikiran, dan perasaan ke tempat gelap. Sementara walaupun hanya dengan berkonsentrasi pada 20 persen jalan keluar, membawa kita menatap matahari, merasakan embusan udara, dan memberi harapan. Ada sinar juga di sela-sela persoalan dan keputusasaan.
Singkatnya, melihat sukses pasti lebih baik daripada melihat gagal. Berpikir benar pasti akan menghasilkan sesuatu yang benar.
dari Kompas, 27 Juni 2009Agung Adiprasetyo CEO Kompas Gramedia

Minggu, 21 Juni 2009

Taman Nagoya Indah [2]


Taman Nagoya Indah, Pulau Batam 2009, dalam proses pembangunan

About Morphosis





Morphosis is definitely one of my favourite designer firm. Its works reflects an architecture that is suitable for recent development in modern society.




Thom Mayne, with Michael Rotondi, founded Morphosis in 1972 to develop an architecture that would eschew the normal bounds of traditional forms. Beginning as an informal collaboration of designers that survived on non-architectural projects, its first official commission was a school in Pasadena, attended by Mayne's son. Publicity from this project led to a number of residential commissions, including the Lawrence Residence.
Since then, Morphosis has grown into prominent design practice, with completed projects worldwide. Under the Design Excellence program of the United States government's General Service Administration, Thom Mayne has become a primary architect for federal projects. Recent commissions include: graduate housing at the
University of Toronto; the San Francisco Federal Building; the University of Cincinnati Student Recreation Center; the Science Center School in Los Angeles, Diamond Ranch High School in Pomona, California; and the Wayne L. Morse United States Courthouse in Eugene, Oregon.



Morphosis's Design Philosphy

Morphosis’s design philosophy arises from an interest in producing work with a meaning that can be understood by absorbing the culture for which it was made. This is in opposition to typical architectural philosophies which overlay meaning from outside influences and are distant from the question at hand.The word “metamorphosis” (from which the name Morphosis is derived) means a “change in form or transformation.” For Morphosis this reflects a design process intuitively embedded within an increasingly groundless modern society that is exemplified by the shifting landscape of Los Angeles (the firm’s home). Their working method values contradiction, conflict, and change, and understands each project as a dynamic entity. Thom Mayne's use of unconventional forms and materials and the ability to deliver innovative work on a tight budget has made him the government's favorite architect. Thom Mayne is know for the use of glass, concrete and steel in construction and space saving and energy efficiency in his designs.The work of Morphosis has a layered quality. The designs often include multiple organizational systems which find unique expression while contributing to a coherent whole. Visually, the firm’s architecture includes sculptural forms which often appear to arise effortlessly from the landscape. In recent years this has been increasingly made possible through the use of computational design techniques which simplify the construction of complex forms.

Proposal untuk Taipei Performing Art Center oleh Morphosis

Morphosis, sebuah biro arsitektur asal California menciptakan sebuah desain yang futuristik untuk Taipei Performing Art Center.Desain bangunan ini didasari konsepsi bahwa sebuah teater bukan merupakan wadah elitis, melainkan inklusif. Akses publik dengan wajah bangunan yang mencerminkan fungsi di dalamnya dengan beragam material menandai bangunan yang futuristik ini. Lebih lengkap lagi di http://www.designboom.com/weblog/cat/9/view/5743/morphosis-architects-taipei-performing-arts-center-proposal.html