Tampilkan postingan dengan label My Notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Notes. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2009

Small Hotel with Ingenious Design

Recently my friend posted a picture in Facebook depicting a hotel in Kediri Central Java. The picture caught my attention because the unique design of the hotel. Although it is a small hotel, nevertheless, it was so well designed.

The hotel use common materials and common construction method, but it was arranged cleverly that make the form unique and genuine. The architect did not stick on ordinary and archtypal form, but dare to go beyond and invent fresh new form.

The design also reflects modesty and simplicity. It does not use many embellishment such as cornices or many ornaments. Instead the beauty simply comes from the form itself as a whole.

Whoever the architect is, he already did a good job.

Minggu, 28 Juni 2009

JANGAN MEMBATASI DIRI HANYA KARENA MERASA TIDAK MAMPU
Di Bangalore, India, gajah besar hanya diikat di tiang pancang kecil yang sebenarnya dengan mudah dicabutnya. Aneh, mengapa gajah besar itu tak berupaya berontak. Jawabannya karena ketika masih kecil gajah itu berulang kali mencoba, tetapi gagal mematahkan tiang kecil itu. Kegagalan itu mewarnai pikirannya, bahkan sampai besar gajah itu tak pernah berusaha lagi untuk melepaskan diri.Sama seperti gajah kecil itu, acap kali perasaan ketertinggalan dan keterbelakangan memberi kesimpulan dalam otak kita.


JANGAN MEMBATASI DIRI HANYA KARENA MELIHAT SISI NEGATIF SUATU PERSOALAN
Bayangkan kita berada dalam kamar gelap dengan hanya secercah cahaya lilin kecil di tengah ruangan. Cahaya lilin itu barangkali tak sampai menyinari sepertiga ruangan, tetapi orang tak akan mencari sesuatu di tempat gelap. Orang akan melihat lewat sedikit sinar yang masuk ke mata. Inilah hukum 80 persen melihat persoalan dan 20 persen melihat kemungkinan jalan keluar. Melihat 80 persen persoalan artinya kita langsung menempatkan diri di bawah langit mendung berawan tebal, lalu menempatkan seluruh metabolisme tubuh, pikiran, dan perasaan ke tempat gelap. Sementara walaupun hanya dengan berkonsentrasi pada 20 persen jalan keluar, membawa kita menatap matahari, merasakan embusan udara, dan memberi harapan. Ada sinar juga di sela-sela persoalan dan keputusasaan.
Singkatnya, melihat sukses pasti lebih baik daripada melihat gagal. Berpikir benar pasti akan menghasilkan sesuatu yang benar.
dari Kompas, 27 Juni 2009Agung Adiprasetyo CEO Kompas Gramedia

Sabtu, 20 Juni 2009

Between Style & Design Philosophy

All of design philosophy will at last fall from grace to become merely a design style

Apa arti Arsitektur Minimalis ? Post Modern ? Modern ?


Semua emblem di atas biasanya ditempelkan pada style bangunan tertentu.Arsitektur Minimalis bergaya kotak-kotakArsitektur Post Modern ditandai dengan hadirnya elemen-elemen portal lengkung & warna-warna yang ngepop.Arsitektur modern ditandai dengan bangunan yang banyak elemen logam & kacanya.

Sedikit yang peduli bahwa bentuk-bentuk bangunan itu ada karena dilandasi suatu filosofi desain tertentu.

Misalnya arsitektur modern berlandaskan filosofi 'forms follows function' yaitu bahwa suatu bentuk lahir dari tuntutan fungsi yang harus dipenuhi.
Arsitektur Post Modern kemudian menegasikan premis di atas, bahwa selain unsur fungsional, suatu bentuk juga harus mewadahi elemen vernakular, elemen sosial budaya dan kontekstual dari bentuk tersebut.Dengan demikian bentukan portal-portal klasik memperoleh pembenaran dari sisi Post Modern, walaupun dari segi fungsional bentukan tersebut dapat dibuat lebih sederhana (kotak saja)
Arsitektur minimalis berangkat dari pemikiran bahwa 'less is more', kesederhanaan sesungguhnya lebih mulia dari keanekaragaman. Mirip dengan prinsip arsitektur modern yang menomorsatukan bentukan yang fungsional. Mirip dengan filosofi Zen yang mengagungkan kekosongan.

Namun segala macam tori dan filosofi di atas pada akhirnya akan jatuh menjadi sesuatu 'style' saja. Pengguna/pemilik bangunan sebagian besar tidak terlalu peduli dengan filosofi desain bangunan miliknya. Buat mereka, yang terpenting adalah bangunan terlihat indah (sesuai selera mereka), up to date, berkelas dsb. Maka yang terjadi adalah peniruan dan pengulangan.

Hal ini sering menjadi bahan pemikiran penulis dalam berpraksis. Mungkinkah filosofi desain hanya sekedar konsumsi elitis saja dan hanya menjadi sebuah background knowledge dalam praksis arsitektur ?


seperti minimalis, padahal Arsitektur Modern, karya Le Corbusier

















seperti minimalis, padahal Post Modern, karya Peter Eisenmann







seperti minimalis, padahal Arsitektur Post Modern, karya Peter Eisenmann








mungkin inilah yang sebenarnya Arsitektur Minimalis, sebuah kapel karya Tadao Ando. Filosofi Zen sangat kuat terasa di sini














satu lagi karya Tadao Ando dengan nafas Zen-nya. Arguably the real minimalist