Selasa, 08 Maret 2011

Seputar Roof Sheet

Teman-teman, setelah berbulan-bulan tidak nulis, akhirnya muncul kembali kemauan nulis saya. Mohon maaf pada teman-teman follower.

Karena postingan terakhir saya adalah mengenai atap kepingan/roof tile, maka saat ini saya akan melanjutkan dengan membahas atap lembaran/roof sheet.

Roof sheet adalah bahan atap berupa lembaran. Contohnya atap seng, asbes dan zinc alume.

Keuntungan / keunggulan roof sheet adalah :
1. Bahan yang ringan sehingga tidak dibutuhkan konstruksi kuda-kuda yang kuat.
2. Pengerjaan lebih sederhana, sehingga waktu konstruksi singkat.
3. Relatif tahan terhadap kebocoran, karena berupa lembaran utuh

Kelemahan / kerugian roof sheet adalah :
1. Tidak cukup memberikan insulasi panas, karena penampangnya yang tipis. Atap seng & zinc alume justru meneruskan panas karena berbahan dasar logam.
2. Tidak cukup memberikan insulasi suara, juga karena penampangnya tipis. Karena itu roof sheet akan bising ketika diterpa hujan.

Oke, sekarang kita akan membahas berbagai macam roof sheet.

1. Seng / zinc
Dari berbagai macam roof sheet, bahan ini yang paling murah. Untuk atap biasanya dipergunakan seng gelombang. Seng plat ada juga, biasanya untuk bahan talang.
Kualitas seng antara lain ditentukan oleh ketebalannya, yang pada akhir-akhir ini hanya tersedia yang tipis saja. Atap seng bersifat sangat menghantarkan panas, sehingga ruangan menjadi panas pada siang hari. Selain itu mudah berkarat, sehingga hanya selama 2-3 tahun karena bocor berkarat.

2. Atap asbes
Atap asbes juga berbentuk gelombang, seperti seng. Namun karena bukan berbahan dasar logam, atap ini tidak begitu menghantarkan panas dan suara. Atap asbes tidak berkarat, namun berlumut, yang menyebabkannya berwarna kehitam-hitaman setelah beberapa tahun. Atap asbes dapat pecah jika terinjak. Maka dalam perbaikan sebaiknya diinjak tepat pada bagian rangka. Kalau tidak salah, bahan asbestos untuk membuat atap ini bersifat karsinogenik. Karena itu sebaiknya gunakan plafond di bawah atap asbes.
3. Zinc alume
Atap ini terbuat dari campuran seng dan alumunium dicat. Di daerah saya bahan ini disebut dengan spandek. Salah satu merek yg terkenal adalah Fumira. Bentuk gelombang atap jenis ini bermacam-macam, ada yang bentuknya mirip genting. Ketebalannya juga banyak pilihan. Usahakan pilih ketebalan 0.4mm untuk hasil yg baik Panjang atap zinc alume dapat dipesan sesuai kebutuhan, yang membatasi hanya kepraktisan pengangkutan.
Atap zinc alume tahan karat. Kelemahannya, karena bahannya logam, adalah menyalurkan panas & suara. Namun kelemahan ini dapat dikurangi dengan penambahan lapisan alumunium foil dan glasswool di bawahnya.
Karena sifat-sifat di atas, maka atap zinc alume banyak dipergunakan di pabrik-pabrik dan bangunan berbentang besar lainnya.

4. Sirap
Pada mulanya sirap terbuat dari kayu, namun pada saat ini sudah banyak bahan logam dan sintetis yang dipakai untuk sirap. Bahan-bahan modern ini lebih tahan terhadap cuaca dan jamur daripada kayu. Sirap umumnya dipasang di atas permukaan tripleks, namun ada juga yang cukup kaku untuk dipasang begitu saja. Umumnya sirap memberikan insulasi panas dan suara yang lebih baik dari atap seng atau zinc alume, selain itu penampilannya juga lebih bagus. Namun dari segi harga, sirap lebih mahal dari dua jenis atap tadi.


Selasa, 23 Februari 2010

Genting sebagai bahan penutup atap dan berbagai permasalahannya

Atap bangunan mempunyai peran yang sangat penting baik secara fungsional maupun secara estetis.

Secara fungsional atap merupakan bagian yang paling besar perannya dalam memberikan perlindungan terhadap iklim karena merupakan bagian bangunan yang paling banyak terpapar panas dan hujan.

Sedangkan secara estetis, atap merupakan elemen yang sangat menentukan ciri atau karakter suatu bangunan. Misalnya bentuk rumah gadang dan joglo, paling mudah dikenali dari bentukan atapnya

Secara garis besar, atap bangunan dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu jenis lembaran (roof sheet), contohnya seng & sirap, serta jenis kepingan (roof tile) atau dikenal dengan istilah genting.

Pada tulisan kali, saya akan membahas berbagai permasalahan genting sebagai bahan penutup atap

Dibandingkan dengan atap lembaran, atap genting mempunyai beberapa kelebihan, antara lain :
1.Merupakan insulasi panas yang baik, karena bahan yang tebal dan padat mampu meredam rambatan panas. Karakter ini tentu sangat baik untuk menahan paparan terik matahari.
2. Merupakan insulasi suara yang baik, sehingga mengurangi kebisingan suara akibat terpaan air hujan.
3.Memungkinkan pertukaran udara pada ruang di bawah atap. Ini terjadi karena atap genting merupakan rangkaian kepingan yang memungkinkan udara lewat di antara kepingan-kepingan atap. Dengan demikian, udara panas di bawah atap lebih leluasa berekspansi keluar.

Sedangkan kekurangan dari atap genting adalah :
1. Kemiringan atap harus curam, tidak dapat dipasang pada sudut atap landai. Ini terjadi karena atap genting tersusun dari kepingan-kepingan sehingga sudut atap yang landai dapat mengakibatkan bocor pada saat hujan.
2. Bobotnya berat, sehingga menuntut rangka atap yang lebih kuat, yang artinya membutuhkan material rangka atap yang lebih banyak, dan selanjutnya biaya yang lebih besar
3. Lebih rentan terhadap kebocoran. Sekali lagi karena merupakan susunan dari kepingan-kepingan, pemasangan genting menuntut ketelitian dan ketepatan. Jika ini tidak dilakukan, maka interlocking antar kepingan tidak sempurna dan mengakibatkan kebocoran.

Dari segi bahan, ada berbagai jenis genting, antara lain genting tanah liat, genting keramik dan genting beton.

Genting tanah liat adalah jenis genting yang paling merakyat. Dibuat dari tanah liat yang dibakar sehingga berwarna terracotta. Jika pembakaran kurang baik, genting ini akan rapuh atau mudah pecah. Selain itu permukaan genting ini mudah ditumbuhi lumut setelah terpasang beberapa tahun, sehingga menimbulkan warna kehitam-hitaman. Untuk mengatasi masalah lumut ini, seringkali genting dicat sebelum dipasang.







Sama dengan genting tanah liat, genting keramik juga terbuat dari tanah liat, namun pada permukaan atasnya ditambahkan lapisan keramik sehingga mengilap dan tahan lumut. Kualitas pembakaran genting keramik lebih baik dari genting tanah liat karena prosesnya dilakukan di pabrik, bukan di industrik rakyat seperti genting tanah liat. Dengan demikian genting ini lebih keras dan tidak mudah pecah.










Selanjutnya adalah genting beton, yang tentu saja terbuat dari beton dengan finishing cat pada permukaan atas. Dari segi kekuatan, genting ini lebih unggul dari genting tanah liat dan genting keramik. Bobotnyapun lebih berat. Penampilan genting beton sangat dipengaruhi oleh halusnya hasil cetakan dan kualitas cat pada permukaannya.









Bentuk kepingan genting beraneka ragam, gambar-gambar di atas sekedar contoh saja untuk menggambarkan perbedaan penampilan masing-masing jenis genting. Namun yang pasti dalam setiap kepingan pasti terdapat alur-alur untuk interlocking antar kepingan. Dan terakhir, perlu diperhatikan juga, bahwa atap genting memerlukan asesoris-asesoris dalam pemasangan, yaitu rabung dan genting penutup pinggir kiri dan kanan.


Demikian kira-kira plus minus dari pemakaian genting sebagai penutup atap. Pada kesempatan selanjutnya saya akan menulis mengenai penutup atap lembaran (roof sheet). Kiranya bermanfaat bagi teman-teman









Sabtu, 14 November 2009

Seputar Rangka Atap Baja Ringan [2]

Beberapa saat yang lalu saya menggunakan rangka atap baja ringan pada salah satu proyek kami. Pemasangan rangka atap tersebut merubah pandangan saya, bahwa rangka atap ini hanya cocok untuk bentang-bentang pendek. Faktanya rangka atap yang kami pasang mempunyai bentang 9m dan cukup kuat.

Dari segi keekonomian, rangka atap baja ringan lebih murah daripada rangka atap baja. Namun perlu disadari bahwa pertimbangan sistem struktur secara keseluruhan harus dilakukan untuk menentukan pilihan.



Kebetulan pada proyek kami, sistem struktur yang digunakan adalah beton bertulang, dengan demikian dapat mengakomodasi persyaratan baja ringan yang menuntut jarak antara kuda-kuda yang lebih rapat. Dalam hal ini adalah sekitar 2.6m untuk penutup atap spandek. Bandingkan dengan kuda-kuda baja yang biasanya dipasang pada jarak 6m.

Kesimpulannya, kuda-kuda ringan juga dapat dipakai untuk bentang lebar, namun perlu diperhatikan bahwa jarak antara kuda-kuda lebih rapat sehingga perlu penyesuaian pada struktur di bawahnya.

Kamis, 23 Juli 2009

Small Hotel with Ingenious Design

Recently my friend posted a picture in Facebook depicting a hotel in Kediri Central Java. The picture caught my attention because the unique design of the hotel. Although it is a small hotel, nevertheless, it was so well designed.

The hotel use common materials and common construction method, but it was arranged cleverly that make the form unique and genuine. The architect did not stick on ordinary and archtypal form, but dare to go beyond and invent fresh new form.

The design also reflects modesty and simplicity. It does not use many embellishment such as cornices or many ornaments. Instead the beauty simply comes from the form itself as a whole.

Whoever the architect is, he already did a good job.

Sabtu, 18 Juli 2009

Seputar Rangka Atap Baja Ringan [1]

Dewasa ini rangka atap dari baja ringan telah banyak menjadi pilihan masyarakat untuk rumah dan bangunan. Umumnya rangka atap ini dipakai sebagai alternatif pengganti rangka atap konvensional dari kayu, yang harganya semakin tinggi dewasa ini.

Rangka atap baja ringan cocok dipakai untuk bentangan yang tidak terlalu besar (kurang lebih di bawah 6m). Untuk bentangan yang lebar, rangka atap baja (steel) lebih cocok dari segi efisiensi harga dan kekuatan.

Bahan yang dipakai untuk rangka atap baja ringan umumnya adalah galvalume, yaitu campuran seng (zinc), alumunium dan silikon. Sifat bahan ini adalah ringan, tahan karat dan ulet. Kekuatan dari rangka atap baja ringan didapat dari konfigurasi berbentuk rangka sebagai satu kesatuan, istilah teknisnya 'cremona'.

Keunggulan rangka atap baja ringan dibandingkan dengan rangka atap kayu adalah : lebih ekonomis, tahan rayap, bobot lebih ringan, tahan lama (tidak mudah lapuk) dan lebih tahan terhadap api.Walaupun demikian, rangka atap kayu masih juga dikehendaki orang karena keindahannya, yaitu pada rangka atap yang diekspos. Tentu saja tekstur dan nuansa yang ditimbulkan oleh kayu tidak mungkin ditandingi oleh rangka baja ringan.

Pada umumnya rangka atap baja ringan ditawarkan dengan harga berkisar 150 ribu sampai 200 ribu rupiah per m2 luasan atap. Kontraktor atap baja ringan akan membuat perhitungan dengan software tertentu untuk menentukan desain cremona yang sesuai. Genting yang akan dipergunakan untuk bangunan harus ditetapkan sebelumnya karena menentukan jarak reng (batten).

Konsumen perlu memperhatikan ketebalan bahan yang ditawarkan kontraktor. Bahan yang lebih tebal umumnya menandakan kualitas yang lebih baik. Uji dan bandingkan kekakuan berbagai
rangka yang ditawarkan mengingat produk yang tersedia di pasaran untuk baja ringan sangat beragam.

Semoga bermanfaat



Selasa, 14 Juli 2009

Sunlight and Sun Heat in Tropical Climate

Buildings in tropical area has to be adapted with the tropical characteristic to perform well as a shelter. Fail to do so will make the building needs more energy to make it comfortable. Like for lighting and air conditioning. One of the tropical climate characteristic is its abundant sunlight that comes almost all year.


The abundant sunlight provides us with natural source for lighting. So it is good to make numbers of windows around the building to let the sunlight enter the building. However it has to be keep in mind that sunlight also brings more heat and too much lighting can cause discomfort. So it is suggested that we stay in moderate size of windows and opening.


We often see a building with the wall entirely made of glass. Such building is common in subtropical climate with 4 seasons to maximize natural lighting. But despite its appealing modern look, such building is not suitable for tropical climate. Sunlight in tropical area will create enourmus heat inside the room radiates through glass. So in turn it requires a large amount of cooling from air conditioning.










In tropical area such as Indonesia, the sun moves from east to west with 23.5 degree deviation each to north and south. For this reason, it is the best to make windows opening facing north/south direction. Windows facing east and moreover west direction without any obstruction will receive too much direct sunlight, and makes the room too hot

The principle to tackle the problem of heat that comes with the sunlight is to create as much shadow area as possible. This can be obtained by various ways making One solution is to make long roof overhang or creating porch which is a common practice in tropical houses. Another solution is putting solar screen in front of the window or opening which creates some sort of curtain to reduce direct sunlight.

A building that is suitable for tropical climate doesn't have to look old fashioned and traditional. Here is some example of award winning houses that is modern as well as suitable for tropical climate





A house by Alex Santoso uses long overhang to shelter the large windows from direct sunlight.







a house by Willis Kusuma uses transparent overhang and variation of wall recess to create shadow area to give the windows more shelter from sunlight











a house by Andra Matin has a series of solar screen that gives the building a distinctive looks


















a house by Sukendro Sukandra uses a series of solar screen that looks like a curtain






(images came from Skala+ magazine)

Sabtu, 04 Juli 2009

Pemukiman di tepi Kali Code Yogyakarta karya YB Mangunwijaya


YB Mangunwijaya (1929-1999), seorang Romo Katolik yang banyak dikenal sebagai seorang budayawan, sebenarnya juga merupakan seorang arsitek yang sangat istimewa. Bahasa bentuk Romo Mangun sangat orisinil, tidak meniru-niru atau berasosiasi dengan style-style yang ada, melainkan lahir dari pemikiran dan proses kreatifnya sendiri.

Salah satu karya beliau adalah pemukiman di pinggiran kali Code Yogyakarta yang mendapatkan penghargaan internasional Aga Khan Award for Architecture tahun 1992. Pemukiman ini adalah suatu proyek revitalisasi kota yang berbasis partisipasi masyarakat. Di lokasi ini, lingkungan pemukiman yang dulunya kumuh & tidak higienis berhasil ditata dengan cara pemberdayaan masyarakat. Jadi masyarakat sendiri yang diajak membenahi lingkungannya sendiri.

Pada mulanya kampung kali Code adalah pemukiman kumuh di pinggiran Kali Code beranggotakan 30-40 keluarga. Kebanyakan pemukimnya adalah pekerja kasar dan informal di lingkungan sekitar kawasan. Pada tahun 1983 pemerintah bermaksud menggusur pemukiman ini, namun atas permohonan ketua RT Willi Prasetya dan Romo Mangun, rencana tersebut ditangguhkan. Sebagai gantinya diselenggarakan suatu proyek revitalisasi dengan melibatkan 2 koran lokal untuk mendukung pendanaan

Perencanaan dan pembangunan area ini dimulai pada tahun 1983 dan selesai selama kurang lebih 2 tahun. Hampir tidak ada gambar atau dokumen konstruksi dibuat untuk proyek ini. Semua berlangsung secara spontan dan alamiah. Secara umum konstruksi rumah berbentuk huruf A dengan rangka dari bambu, dinding bilik bambu dan atap seng. Hanya tiga tukang kayu dan 2 tukang batu dipekerjakan untuk proyek ini, selebihnya adalah tenaga partisipasi warga dan sukarelawan. Mahasiswa seni rupa ikut terjun sebagai relawan untuk membimbing warga memperindah tampilan luar rumah mereka.

Bahasa estetika dari Kali Code ini adalah bahasa estetika rakyat jelata yang tradisional, berwarna-warni, sederhana tanpa pretensi berindah-indah. Mungkin agak banal, tapi apa adanya. Namun selain estetika visual, dalam proyek ini terpendam juga estetika kemanusiaan yang justru lebih indah. Yaitu bagaimana sesuatu yang dicap jelek, kumuh, tidak bernilai ternyata mampu bertransformasi menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan memberi nilai tambah pada estetika perkotaan.

Masih adakah revitalisasi perkotaan semacam ini di Indonesia saat ini ?


Info lebih lanjut, ada di :